Komponen-komponen Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
I.A LATAR BELAKANG
Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari system proses pendidikan yang menentukan berhasil atau tidaknya atau ada atau tidaknya proses pendidikan. Komponen-komponen yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan adalah anak didik, pendidik, tujuan pendidikan, alat pendidikan,dan lingkungan pendidikan.
Komponen yang tidak bisa dilupakan dan yang menentukan di dalam keberhasilan proses pendidikan adalah pendidik dan anak didik. Anak didik sebagai individu yang akan dipenuhi kebutuhan pengetahuan, sikap dan tingkah lakunya. Sedang pendidik adalah individu yang akan memenuhi kebutuhan tadi. Dan tujuan pendidikan bersifat abstrak karena memuat nilai-nilai yang sifatnya abstrak.
Peserta didik adalah orang yang memiliki potensi dasar, yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, baik secara fisik maupun psikis, baik pendidikan itu dilingkungan keluarga, sekolah maupun dilingkungan masyarakat dimana anak tersebut berada. Sebagai peserta didik juga harus memahami kewajiban, etika serta melaksanakanya. Kewajiban adalah sesuatu yang wajib dilakukan atau dilaksanakan oleh peserta didik. Sedangkan etika adalah aturan perilaku, adat kebiasaan yang harus di tati dan dilaksanakan oleh peserta didik dalam proses belajar.
Pendidik adalah mereka yang memiliki tanggung jawab mendidik yakni orang dewasa yang karena hak dan kewajibannya melaksanakan proses pendidikan. Pada intinya pendidik adalah seseorang yang professional dengan tiga syarat memiliki pengetahuan lebih, mengimplisitkan nilai dalam pengetahuannya dan bersedia mentransfer pengetauan beserta nilainya kepada peserta didik.
Dalam setiap usaha atau kegiatan tentu ada tujuan yang akan dicapai. Target sasaran dalam setiap kegiatan pendidikan adalah bentuk manusia yang diharapkan terjadi pada diri peserta didik dalam rangka pembentukan pribadinya. Tujuan Pendidikan juga akan menentukan kearah mana anak didik akan dibawa. Disamping itu pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia.

I.B RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian tersebut diatas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang muncul berkaitan dengan topik makalah yaitu:
1. Apakah pengertian anak didik (peserta didik)?
2. Apakah pengertian pendidik, syarat pendidik dan tugas pendidik?
3. Apakah tujuan pendidikan, sifat dan tujuan pendidikan dan tujuan pendidikan di Indonesia?
I.C TUJUAN
1. Mengetahui tentang anak didik (peserta didik).
2. Mengetahui tentang pendidik, syarat,tugas dan kreteria pendidik yang dibutuhkan.
3. Mengetahui hakekat tujuan pendidikan, sifat dan tujuan pendidikan serta tujuan pendidikan di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
II.A ANAK DIDIK
Term, siswa , pelajar, dan peserta didik merupakan bentuk kata bersinonim (memiliki arti yang sama).Term-term tersebut artinya adalah anak yang sedang memperoleh pendidikan dasar dari suatu lembaga pendiddikan. Peserta didik adalah subyek utama dalam pendidikan. Dialah yang belajar setiap saat.
Dalam pengertian umum, anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendiddikan. Sedangkan dalam arti sempit anak didik adalah anak (pribadi yang belum dewasa) yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik.(Yusrina,2006).
Dalam Undang-Undang no.20 Th 2003 tentang system pendidikan nasional, bagaimana yang dikutip oleh murid Yahya (2008:113), dijelaskan bahwa yang dimaksud peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur,jenjang,dan jenis pendidikan tertentu.
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud peserta didik adalah individu manusia yang secara sadar berkeinginan untuk mengembangkan potensi dirinya (jasmani dan rohani) melalui proses kegiatan belajar mengajar yang tersedia pada jenjang atau tingkat dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik dalam kegiatan pendidikan merupakan obyek pertama (central obyek), yang ke padanya telah segala yang berhubungan dengan aktivitas pendidikan dirujukan.
Anak sebagai makhluk Tuham Yang Maha Esa, di dalam dirinya mengandung potensi untuk berkembang. Hal itu juga disebut faktor dari dalam (bakat atau pembawaan). Hak dan kemampuan anak yang dimiliki anak berupa usaha mengembangkan potensi itu. Dalam hal ini anak tidak dapat melakukannya karena keterbatasan kemampuannya. Disinilah anak memerlukan bantuan – bantuan agar berkembang itu tidak lain adalah pendidikan dalam arti luas.
Dari penjelasan diatas kita dapat menarik pokok pikiran antara lain :
1. Anak ( manusia ) pada hakikatnya memiliki kebebasan yang terbatas. Kebebasan yang dimiliki adalah haknya untuk berkembang dan maju.Oleh karena itu mereka perlu ditolong.
2. Anak pada hakekatnya adalah makhluk yang memerlukan pendidikan.karena anak ingin berkembang, jadi anak butuh pertolongan.
Kedua penjelasan tersebut adalah bersifat interhent artinya lengket antara keinginan untuk mendidik dan keinginan untuk dididik dalam rangka mengembangkan potensi yang ada pada anak yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
Anak memperoleh pengalaman pertamanya dalam keluarga. Corak dari anak tersebut diperoleh dari lingkungan keluarga.Maka seorang pendidik harus tahu apa-apa yang dibawa anak dari lingkungannya.Dalam pendidikannya dalam permukaan anak didik hendaknya diberikan materi yang dihubungkan dengan hal- hal yang pernah dilihat atau didengarnya dalam hasil pergaulan dalam masyarakat.Anak merupakan faktor pendidikan yang mempunyai sifat (bakat yang diperoleh dari warisan orang tuanya), ego (anak memiliki hak memilih dan menolak sesuatu yang diberikan kepadanya).
Beberapa kesukaran yang timbul dalam pendidikan anak :
1. Keras Hati dan Keras Kepala
Keras hati dan keras kepala adalah sifat-sifat anak yang sering sangat menyulitkan para orang tua atau pendidik-pendidik lain. Keras hati ialah bantahan terhadap suruhan orang lain karena ia ada tujuan dan maksud sendiri yang berlainan dengan apa yang disuruhkan kepadanya. Sedangkan keras kepala ialah bantahan terhadap suruhan orang lain, tetapi ia tidak ada alasan lain yang bertujuan.
Yang dapat menimbulkan keras hati pada anak antara lain :
a) Karena pembawaan anak
b) Karena keadaan badan yang terganggu.
c) Karena perkembangan rohani anak.
Usaha pendidik untuk mengatasi keras hati antara lain :
1. Mempermudah anak-anak berlaku patuh dengan jalan membiasakan anak-anak hidup secara teratur dan tertib.
2. Perintah dan larangan hendaklah diberikan dengan lembah lembut dan dapat membesarkan hati mereka, jangan sekali-kali dengan keras dan kasar.
3. Hendaklah pendidik senantiasa ingat akan keadaan jasmani dan atau rohani anak pada waktu itu.
4. Janganlah memanjakan anak. Bertindaklah yang tegas, yang konsekuen agar anak-anak tahu apa yang harus menjadi pegangannya.
5. Dalam menghadapi anak yang keras hati itu kita harus bersikap tenang dan tegas, jangan kehilangan keenangan atau tergoyang kesimbangan batin kita, jadi kita harus tetap sabar.
6. Pada anak-anak kecil kadang-kadang berhasil juga dengan memelokkan perhatiannya kearah yang lain.
7. Sering dengan usaha “tidak begitu mengacuhkan” dapat berhasil juga. Dan bagaimanapun juga, makin sedikit orang lain yang tahu sifat anak itu, makin baik.
8. Dengan member hukuman kepada anak yang demikian itu, umumnya tidak berhasil dan tidak ada buahnya. Bagi anak-anak yang sudah agak besar dapat juga dengan memberikan sedikit kata-kata nasihat yang singkat.

2. Anak Yang Terlalu Dimanjakan
Anak yang dimanjakan akan mengalami bermacam-macam cacat dalam jiwanya. Umumnya orang tua memanjakan anak dengan bermacam-macam cara, meliputi:
a. Si anak dengan seribu satu macam pemiliharaan dan menyingkirkan segala kesulitan baginya.
b. Memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan si anak – biarpun akan merugikan atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya dituruti saja.
c. Membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya, jadi tidak membiasakan dia akan ketertiban, kepatuhan, peraturan, dan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya.
Kebanyakan anak yang diancam bahaya dimanjakan ialah :
a. Anak tungal
b. Anak sulung adiknya belum lahir
c. Anak yang termanis atau terpandai diantara saudara-saudaranya
d. Anak yang sering sakit
e. Anak yang cacat
f. Seorang anak laki-laki yang saudaranya perempuan-perempuan
g. Seorang anak perempuan yang saudara-saudaranya laki-laki semuanya
h. Anak yang diasuh oleh neneknya
i. Anak angkat.
Hal – hal yang dapat menyebabkan pemanjaan itu antara lain ialah :
1. Karena ketakutan yang berlebihan-lebihan akan bahaya yang mungkin mengancam si anak
2. Keinginan yang tidak disadari untuk selalu menolong dan memudahkan kehidupan si anak.
3. Karena orang tua sendiri takut akan kesukaran, segan bersusah-susah, ingin mudah dan enaknya saja.
4. Karena kebodohan orang tua.
Akibat anak yang dimanjakan antara lain :
1. Anak akan mempunyai sifat memintingkan dirinya sendiri.
2. Kurang mempunyai rasa tanggung jawab.
3. Memanjakan dapat juga mengakibatkan anak menadi mempunyai perasaan harga diri-kurang.
Petunjuk-petunjuk singkat ini dapat kiranya menolong kita dalam mendidik anak-anak itu,antara lain:
a. Janganlah mengindahkan anak yang manja itu lebih dari pada anak-anak lain.
b. Didiklah mereka itu kearah percaya kepada kemampuan diri sendiri.
c. Besarkan hatinya terhadap hasil-hasil usahanya yang telah dikerjakannya sendiri, kalau perlu pujilah mereka.
d. Kembangkan perasaan sosial anak itu.
e. Yang penting pula ialah menginsafkan orang tua bahwa perbuatan mereka memanjakan anak itu adalah keliru dan harus diubahnya

a. Dusta Anak
Dusta termasuk salah satu cacat atau kelasalahan yang sering terdapat pada anak-anak maupun orang dewasa. Dalam bab ini kami perlu bicarakan juga, sebab, kecuali dusta itu merupakan suatu sifat yang tidak baik, tidak susila, yang harus diberantas, juga merupakan kesukaran-kesukaran pula, terutama bagi orang tua, yang umumnya disebabkan mereka kurang mengetahui bagaimana cara mendidik anak-anak agar tidak menyukai dusta itu.
Dalam perkembangan anak sejak kecil, kita perhatikan bahwa sebenarnya mula-mula anak itu tidak atahu dan tidak pernah berdusta. Anak-anak yang berumur 3 – 4 tahun selalu mengatakan itu apa saja yang didengar dan dilihtnya dengan sesungguhnya. Ia mengatakan itu apa adanya saja.
Akan tetapi, disebabkan oleh pengaruh-pengaruh lingkungan dn karena keslahan-kesalahan dalam pendidikan keluarga, banyak anak yang mudah bebuat dusta. Pada anak-anak sekolah pun sifat suka berdusta ini banyak terdapat.
Maka dari itulah, disini kelihatan pula betapa perlunya para guru turut berusaha memberantas sifat pendusta pada anak-anak. Dalam hal ini tentu saja akan lebih berhasil jika para guru atau sekolah dapat bekerja sama dengan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Yang penting bagi kita sekarang ialah mengetahui sifat-sifat dusta yang terdapat pada anak-anak, dan bagaimana kemungkinan memberantasnya.
Macam – macam dusta pada anak :
1. Dusta Semu
Si Akhmad (± 3 tahun) berbicara kepada temanya bahwa ia akan dibelikan tiga buah mobil oleh ayahnya untuk ke sekolah setiap hari, dan yang dua buah lagi untuk pesiar dan berbelanja ke kota.
Dari contoh diatas nyatalah pada kita bahwa si Akhmad tidak merasa benar-benar berdusta. Jadi dusta semu terjadi apabila anak belum mengetahui benar-benar tentang buruk dan baik dalam arti susila Suatu perbuatan dapat kita katakan dusta yang sebenarnya jika yang melakukan itu:
1. Menginsafi benar-benar bahwa ia berdusta
2. Mempunyai tujuan untuk menipu orang lain
3. Dengan dustanya itu ia mengharapkan mencapai suatu maksud.
Diluar ketiga hal tersebut, dusta anak-anak adalah dusta semu.
Pengertian tentang dusta semua ini penting sekali terutama bagi para orang tua yang setiap waktu berhadapan dan bergaul dengan anak-anaknya. Dengan demikian, orang tua selalu dapat membimbing perkembangan jiwa anak itu ke arah sifat-sifat dan watak yang baik dan jujur.
Yang menyebabkan anak-anak kecil itu sering melakukan dusta semu antara lain.
a. Pengamatannya yang belum sempurna
Ternyata pengamatan pada anak-anak itu mula-mulanya bersifat global, kesluruhan, dan kabur. Bagian-bagian benda atau situasi belum dapat diamati dengan teliti. Tambahan pula, anak-anak belum dapat mengamati sesuatu dengan teratur menurut urutan yang semestinya.
Hal ini, kecuali disebabkan memang perkembangan pengamatan anak itu harus mengalami suatu proses dari keseluruhan (gestalt) menuju ke bagian-bagian (sturktur), juga disebabkan sesuatu yang diminta itu belum seberapa mendalam dan bahkan mungkin belum ada.

b. Karena daya ingatan anak belum sempurna
Tiap-tiap fungsi jiwa pada anak mengalami perkembangan yang makin lama makin sempurna. Disamping pengamatannya, juga daya ingat anak mengalami perkembangan. Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita perhatikan bahwa anak-anak berumur dibawah enam tahun tidak dapat benar-benar dipercaya untuk belanja ke warung, membeli ini dan itu.Selain itu, perlu tambahkan disini bahwa “pengamatan tentang waktu” pada anak-anak belum ada atau masih kurang sempurna. Anak belum mengerti apa artinya minggu yang lalu, setahun yang sudah, dua minggu lagi dan sebagainya.
Seorang ahli psikologi bangsa Jerman, Oswald Kroh, menamakan masa anak sampai kira-kira berumur 8 tahun itu ialah masa sintesis fantasia tau realism fantasi. Pada masa ini anak-anak belum dapat membedakan atau menisahkan fantasinya sendiri dengan kenyataan-kenyataan (realitas) yang dialaminya. Fantasi dan kenyataan masih bercampur aduk di dalam dirinya.

2. Dusta sebenarnya
Suatu perbuatan baru dapat dikatakan dusta sebenarnya jika perbuatannya itu dilakukan dengan sadar dan segaja. Yang melakukan menginsafi bahwa perbuatannya yang tidak baik itu segaja atau terpaksa dilakukan untuk menipu orang lain karena ada suatu maksud yang hendak dicapainya untuk kepentingan diri sendiri.
Beberapa macam dusta sebenarnya :
1. Dusta karena takut.
2. Dusta sosial atau dusta altuistis.
3. Dusta untuk kepentingan sendiri atau dusta egoistis.

3. Dusta Kompensasi
Dusta kompensasi adalah dusta yang dilakukan anak disebabkan perasaan kurang harga diri. Anak-anak yang menderita perasaan kurang harga diri sering menganggap bahwa orang-orang disekitarnya memandang rendah terhadap mereka. Banyak anak yang mencari jalan untuk mencapai tujuannya itu dengan jalan berdusta, yaitu dusta karena ingin terpadang.
II.B PENDIDIK
1. Pengertian Pendidik
Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan kepada anak yang masih dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar dapat mencapai kedewasaannya. Menurut Noeng Muhajjir adalah seseorang yang personifikasi pendidikan yaitu mempribadinya keseluruhan yang diajarkan, bukan hanya isinya tapi juga nilainya. Pada intinya pendidik adalah seseorang yang professional dengan tiga syarat memiliki pengetahuan lebih, mengimplisitkan nilai dalam pengetahuannya dan bersedia mentransfer pengetauan beserta nilainya kepada peserta didik.
Pendidik, selain bertugas melakukan transfer of knowledge, juga seorang motivator dan fasilitator bagi proses belajar peserta didiknya. Menurut Hasan Langgulung, dengan paradigma ini, seorang pendidik harus dapat memotivasi dan memfasilitasi peserta didiknya agar dapat mengaktualisasikan sufat-sifat Tuhan yang baik, sebagai potensi yang perlu dikembangkan. Dalam melakukan tugas profesinya, pendidik bertanggung jawab sebagai pengelola belajar ( Manager of Learning), pengarah belajar (Direktor of Learnning), dan perencana masa depan masyarakat.
Pendidik meliputi orang tua,guru, pemimpin masyarakat dan sebagainya asalkan mereka bertanggung jawab dan melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut:
a. Tugas Educational (Pendidikan)
Dalam hubungannya dengan tugas pendidikan seorang pendidik bertugas memberi bimbingan agar yang dididik atau yang dibimbing mengenal dan mendapat :
 mengenal tata karma atau akhlak yang baik
 mengenal sopan santun.
 menghargai pendapat dan hak orang lain.
 tenggang rasa, dll.
b. Tugas Instructional (Pengajaran)
Yaitu seorang pendidik harus mampu mengembangkan potensi anak didik yang meliputi perkembangan potensi:
 kognitif (kecerdasan)
 afektif yang meliputi sikap, perasaan dan rasa cinta.
 psikomotor yaitu tentang yang berhubungan dengan ketrampilan.
c. Tugas Managerial (Sebagai Pelaksana)
Yaitu seorang berkewajiban mengelola kehidupan dari kelas atau sekolah yang diasuhnya. Adapun pengelolaan itu meliputi antara lain:
 personal (murid/terdidik); berkaitan dengan tugas pendidikan.
 material (sasaran); yang meliputi alat-alat, perlengkapan, media pendidikan, gedung,dsb.
 operasional (tindakan yang dilakukan); yang menyangkut metode mengajar,pelaksanaan mengajar, sehingga tercipta dan dapat mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar dan dapat berhasil sebaik-baiknya.

2. Syarat sebagai Pendidik
Untuk dapat melakukan peranana dan melaksanakan tugas serta tangung jawabnya, guru memerlukan syarat-syarat etertentu. Syarat-syarat inilah yang akan membedakan antara guru dari manusia-manuisa lain. Adapun syarat-syarat menjadi guru itu dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok :
1. Persyaratan administrative. Meliputi : soal kewarganegaraan (warga Negara Indonesia), Umur (sekurang-kurangnya 18 tauhn, berkelakuan baik, mengajukan permohohnan).
2. Persyaratan Teknis, dalam persyaratan teknis ini ada yang bersifat formal, yakni harus berijazah guru, menguasai cara dan teknik mengajar, terampil mendesains program pengajaran serta memiliki motivasi dan cita-cita memajukan pendidikan dan pengajaran.
3. Persyaratan Psikis. Sehat rohani, dewasa dalam berpikir dan bertindak, mampu mengendalikan emosi, sabar, ramah dan sopan, memiliki jiwa kepemimpinan, konsekuen, berani bertanggung jawab, berani berkorban dan meiliki jiwa pengabdian, dan lain-lain.
4. Persyaratan Fisik. Ini antara lain meliputi berbadan sehat, tidak memiliki cacat tubuh yang mungkin mengganggu pekerjaannya, tidak memiliki gejala-gejala penyakit yang menular.
Sesuai dengan tugas keprofesiannya, maka sifat dan persyaratan tersebut secara garis besar dapat dklasifikasikan dalam spectrum yang lebih luas, yakni guru harus:
• Memiliki kemampuan professional;
• Memiliki kapasitas intelektual;
• Memiliki sifat edukasi social.
Ketiga syarat kemampuan itu diharapkan telah dimiliki oleh setiap guru, sehingga mampu memenuhi fungsinya sebagai pendidik bangsa, guru di sekolah dan pemimpin masyarakat. Untuk itu diperlukan kedewasaan dan kematangan diri guru itu sendiri yang meliputi aspek-aspek yaitu :
• Aspek kematangan Jasmani, dapat dilihat dari perkembangan biologis dan usia. Pada umumnya sikatakan sudah dewasa jasmai, kalau seseorang itu sudah akil baligh atau sudah berkeluarga. Namun pada kenyataannya dalam kehidupan masyarakat masih jarang dipakai sebagai criteria kedewasaan.
• Aspek Kematangan Rohani. Kematangan atau kedewasaan dalam arti rohani mungkin sangat bervariasi atau berbeda-beda antara masyarakat atau bangsa yang satu dengan yang lain. Kematangan atau kedewasaan rohani disini termask antara lain : sudah matang dalam bertindak dan berpikir, sehingga sikap dan penampilannya menjadi semakin mantap. Menghargai dan mematuhi norma serta nilai-nilai moral yang berlaku.
• Kematangan atau Kedewasaan Kehidupan Sosial.aspek kedewasaan social berhubungan dengan kehidupan social, atau kehidupan bersama antar manusia. Untuk dapat bergaul dengan sesame manusia dituntut adanya kemampuan berinterkasi dan memenuhi beberapa persyaratan. Sebagai contoh harus dapat saling menghargai, salilng tenggang rasa, saling tolong menolong. Seseorang itu boleh dikatakan masih seperti anak-anak, karena masih ambisius, mementingkan diri sendiri (Individualistis). Dan kedewasaan seseorang juga ditandai dengan perkembangan rasa tanggung jawab.
Kriteria kualitas guru yang dibutuhkan dalam pendidikan adalah
1. Guru sebagai perencana
2. Guru sebagai inisiator
3. Guru sebagai motivator
4. Guru sebagai observer
5. Guru sebagai motivator
6. Guru sebagai antisifator
7. Guru sebagai model
8. Guru sebagai evaluator
9. Guru sebagai teman bereksplorasi bersama anak didik
10. Promotor agar anak menjadi pembelajar sejati.

3. Guru Sebagai Pendidik dan Pembimbing.
Seseorang dikatakan guru tidak cukup “tahu” sesuatu materi yang akan dioajarkan, tetapi pertanakali ia harus merupakan seseorang yang memang memiliki “kepribadian guru” dengan segala ciri tingkat kedewasaanya. Dengan kata lain untuk menjadi guru atau pendidik, seseorang harus memiliki kepribadian.
Selanjutnya sebagai kelanjutan atau penyempurnaan fungsi guru sebagai pendidik, maka harus berfungsi pula sebagai pembimbing. Pengertian pendidik dalam hal inin lebiuh luas dari fungsi “membimbing”. “Bimbingan” adalah termasuk sarana dan serangkaian usaha pendidikan.
Seorang guru menjadi pendidik berarti sekaligus menjadi pembimbing. Sebagai contoh guru yang berfungsi sabagai pendidik dan pengajar sering kali melakukan pekerjaan bimbingan, misalnya bimbingan belajar, bimbingan tentang sesuatu keterampilan dan sabagainya. Jadi yang jelas dalam proses pendidikan kegiatan mendidik, mengajar dan bimbingan sebagai yang tidak dapat dipisahkan.
Membimbing dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kegiatan kegiatan menuntun anak didik dalam perkembangannya dengan jalan memberikan lingkungan dan arah yang sesuai denga tujuan pendidikan.

II.C TUJUAN PENDIDIKAN
Tujuan pendidikan merupakan faktor utama yang harus diperhatikan,disadari dan dijadikan sasaran oleh setiap pendidik yang melaksanakan kegiatan pendidikan. Oleh karena itu setiap kegiatan atau tindakan pendidikan yang dilakukakn pendidik harus sengaja diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dan tujuan-tujuan pendidikan yang dicapai tersebut jangkauan jauhnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan akhir pendidikan.
a. Hakikat Tujuan Pendidikan
Dalam setiap usaha atau kegiatan tentu ada tujuan yang akan dicapai. Demikian pula kegiatan/usaha pendidikan. Target sasaran yang akan dicapai dalam setiap kegiatan pendidikan adalah bentuk manusia yang diharapkan terjadi pada diri peserta didik dalam rangka pembentukan pribadinya. Dengan demikian tujuan pendidikan itu tidak lain adalah target sasaran yang akan dicapai dalam setiap kegiatan pendidikan atau rumusan bentuk manusia yang akan dicapai oleh kegiatan/usaha pendidikan yang dilakukan oleh seorang pendidik.
Tujuan Pendidikan juga akan menentukan kearah mana anak didik akan dibawa. Disamping itu pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia. Tujuan pendidikan dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu menurut islam dan tujuan pendidikan secara umum.
1. Tujuan Pendidikan Dalam Islam
Tujuan pendidikan islam adalah mendekatkan diri kita kepada Allah dan pendidikan islam lebih mengutamakan akhlak. Secara lebih luas pendidikan islam bertujuan untuk :
• Pembinaan Akhlak
• Penguasaan Ilmu
• Keterampilan bekerja dalam masyarakat
• Mengembangkan akal dan Akhlak
• Pengajaran Kebudayaan
• Pembentukan kepribadian
• Menghambakan diri kepada Allah
• Menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan akhirat

2. Tujuan Pendidikan Secara Umum
Tujuan pendidikan secara umum dapat dilihat sebagai berikut:
1. Tujuan pendidikan terdapat dalam UU No2 Tahun 1985 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman dan dan bertagwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan kerampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.
2. Tujuan Pendidikan nasional menurut TAP MPR NO II/MPR/1993 yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja profesional serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan memepertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawaan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan.
3. TAP MPR No 4/MPR/1975, tujuan pendidikan adalah membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berpancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab dapat menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945.
b. Sifat dan tujuan pendidikan
Langeveld mengemukakan serangkaian tujuan pendidikan, yang saling bertautan sebagai berikut:
1. Tujuan Umum(tujuan lengkap, tujuan total)
Dalam aktivitas pendidikan maka tujuan umum pendidikan adalah kedewasaan anak didik. Hal ini berarti bahwa semua aktivitas pendidikan seharusnya diarahkan kesana, demi tercapainya tujuan umum tersebut.
2. Tujuan khusus (pengkhususan tujuan umum)
Untuk mencapai tujuan umum, kita perlu juga melewati cara-cara yang khusus. Untuk mengkhususkan tujuan umum itu, kita dapat mempergunakan beberapa pandangan dasar (prinsip) sebagai berikut:
a. kita harus melihat kemungkinan-kemungkinan, kesanggupan-kesanggupan, pembawaan, umur, dan jenis kelamin anak didik.
b. kita harus melihat lingkungan dan keluarga anak didik.
c. kita harus melihat tujuan anak didik dalam rangkaian kemasyarakatan.
d. kita harus melihat diri kita sendiri selaku pendidik.
e. kita harus melihat tugas lembaga pendidikan dimana anak itu di didik.
f. kita harus melihat tugas bangsa dan umat manusia.
3. Tujuan tidak lengkap (masih terpisah-pisah)
Tujuan ini erat hubungannya dengan aspek-aspek pendidikan yang akan membentuk aspek-aspek kepribadian manusia, seperti misalnya aspek-aspek pendidikan, kecerdasan, moral, sosial, keagamaan, estetika, dan sebagainya.
4. Tujuan sementara
Tujuan sementara adalah tujuan pendidikan yang dicapai si anak pada tiap fase perkembangan, misalnya : anak dapat berbicara, dapat menjaga kebersihan diri dan sebagainya.
Agar tujuan sementara ini dapat tercapai dengan sebaik-baiknya maka pendidikan harus mengetahui masa peka yaitu masa dimana anak masanya / matang untuk mempelajari sesuatu yang akan dicapai dengan tujuan tersebut.
5. Tujuan incidental
Tujuan ini disebut tujuan seketika / insidentil karena tujuan ini timbul secara kebetulan, secara mendadak dan hanya bersifat sesaat misalnya :
Suatu ketika seorang ayah memanggil anaknya yang sedang bermain untuk shalat dengan tujuan agar si anak patuh dan memenuhi kewajiban shalat. Disaat yang lain sang ayah memanggil anaknya yang edang bermain tidak bermaksud apa-apa hanya mengajaknya jalan-jalan mencoba sepeda motornya yang baru.
Tujuan seketika ini meskipun hanya sesaat dapat memberikan andil dalam pencapaian tujuan. Selanjutnya karena melalui tujuan-tujuan seperti ini dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman langsung yang erat hubungannya nanti di masa yang akan datang.
6. Tujuan intermedier
Tujuan perantara ini merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan-tujuan yang lain. Misalnya : anak belajar membaca dan menulis, selain agar anak dapat membaca dan menulis juga nantinya diharapkan dapat membantu kelancaran pelajaran-pelajaran lainnya di sekolah.
Keenam tujuan tersebut menurut Langeveld intinya dapat disederhanakan menjadi satu macam saja yaitu “tujuan umum” dimana semua tujuan-tujuan (kelima tujuan yang lainnya) diarahkan untuk pencapaian tujuan umum pendidikan yaitu terbentuknya kehidupan sebagai insane kamil, suatu kehidupan dimana ketiga ini hakikat manusia baik sebagai makhluk individu, makhluk sosial; dan makhluk susila religius dapat terwujud secara harmonis.

c. Tujuan Pendidikan di Indonesia
Tujuan pendidikan di Indonesia dalam arti rumusan tentang bentukmanusia Indonesia yang akan dicapai oleh semua kegiatan pendidikandi Indonesia sejak tahun 1950 hingga sekarang mengalami beberapa perubahan. Rumusannya dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Menurut UU Pendidikan dan Pengajaran nomor 4 tahun 1950 yang kemudian diubah menjadi UU nomor 12 tahun 1954, pada Bab II Pasal 3 berbunyi, “Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air”.
2. Menurut ketetapan MPRS nomor II tahun 1960 yang berbunyi,“Tujuan pendidikan ialah mendidik anak kearah terbentuknya manusia yang berjiwa Pancasila dan bertanggung jawab atas terselenggaranya masyarakat sosial Indonesia yang adil dan makmur materiil dan spirituil”.
3. Rumusan Induk Sistem Pendidikan Nasional dilahirkan tahun 1965(disaat adanya pergolakan politik di Indonesia), yang berisi lima dharma bakti pendidikan dalam segala jenis dan tingkatannya,yaitu:
a. Membina manusia Indonesia baru yang berakhlak tinggi (moralPancasila).
b. Memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam segenap bidang dan tingkatannya (manpower).
c. Memajukan dan mengembangkan kebudayaan nasional.
d. Memajukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
e. Menggerakkan dan menyadarkan seluruh kekuatan rakyat untuk membangun masyarakat dan manusia Indonesia baru.
4. Menurut ketetapan MPRS nomor XXVII tahun 1966, berbunyi: “Tujuan Pendidikan ialah membentuk manusia Pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945”.
5. Menurut ketetapan MPR nomor IV tahun 1978, berbunyi:“Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”.
6. Menurut UU SPN nomor 2 tahun 1989 pada Bab II pasal 4, berbunyi:“Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri sertarasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
7. Menurut ketetapan MPR nomor II tahun 1993, yang berbunyi:“Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, trampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab dan produktif serta sehat rohani dan jasmani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan serta berorientasi masa depan”.
Dari sekian banyak rumusan tujuan pendidikan tersebut, yang dibakukan sebagai acuan rumusan tujuan umum pendidikan di Indonesia adalah rumusan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Bab II pasal 3 UU SPN nomor 20 tahun 2003, yang berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

BAB III
PENUTUP

III.A KESIMPULAN
Komponen-komponen pendidikan yang sangat penting dan harus ada untuk mencapai visi dam misi pendidikan yaitu peserta didik, pendidik dan tujuan pendidikan.
Peserta didik, merupakan komponen yang penting dalam pendidikan. Peserta didik adalah orang yang memiliki potensi dasar, yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, baik secara fisik maupun psikis, baik pendidikan itu dilingkungan keluarga, sekolah maupun dilingkkungan masyarakat dimana anak tersebut berada.
Pendidik adalah mereka yang memiliki tanggung jawab mendidik yakni orang dewasa yang karena hak dan kewajibannya melaksanakan proses pendidikan. Tugas-tugas seorang guru:
1. Tugas Educational (Pendidikan)
2. Tugas Instructional (Pengajaran)
3. Tugas Managerial (Sebagai Pelaksana)
Syarat-syarat sebagai seorang pendidik adalah persyaratan administrative, persyaratan teknis, persyaratan psikis dan persyaratan fisik. Sesuai dengan tugas keprofesiannya, maka sifat dan persyaratan tersebut secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam spectrum yang lebih luas, yakni guru harus:
• Memiliki kemampuan professional;
• Memiliki kapasitas intelektual;
• Memiliki sifat edukasi social.
Tujuan pendidikan merupakan faktor utama yang harus diperhatikan, disadari dan dijadikan sasaran oleh setiap pendidik yang melaksanakan kegiatan pendidikan. Sifat dan tujuan pendidikan menurut Langeveld adalah tujuan umum, khusus, tidak lengkap, sederhana, incidental, dan intermedier.
Tujuan pendidikan di Indonesia dirumuskan berlandaskan UUD RI tahun 1945 dan dijelaskan dalam UU Pendidikan dan Pengajaran No.4 tahun 1950 No.12/1954 dinyatakan “Tujuan pendidikan ialah membentuk manusia susila yang cakap, warga negara yang berdemokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air (pasal 3, bab 1). Dasar: Pendidikan dan pengajaran berdasarkan asas-asas yang tercantum dalam Pancasila UUD Negara Republik Indonesia dan atas Kebudayaan Kebangsaan RI (pasal 4, Bab III)”.
Rumusan tujuan umum pendidikan di Indonesia adalah rumusan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Bab II pasal 3 UU SPN nomor 20 tahun 2003, yang berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

III.B SARAN
Dengan pembuatan makalah ini diharapkan kita mampu untuk memahami komponen-komponen pendidikan yang ada dan sekaligus belajar untuk menjadi seorang guru yang berdedikasi tinggi, peserta didik yang aktif untuk mewujudkan tujuan pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Hadi,Soedomo.2003.Pendidikan(Suatu Pengantar).Surakarta:UNS Press
Djantun,Rachmat,Sutijan, dan Sukino.2009. Pengantar Ilmu Pendidikan.
Surakarta : UNS Press
Sardiman.A.M.2004.Interaksi Dan Mutifasi Belajar Mengajar.Jakarta:Rajawali
Pers
http://staff.uny.ac.id/sites/pendidikan diakses tanggal 19 September 2011
http://bukittingginews.com diakses tanggal 19 September 2011
http://www.anneahira.com diakses tanggal 19 September 2011
http://abulraihan.wordpress.com diakses tanggal 19 September 2011
http://akromislamiccenter.blogspot.com diakses tanggal 20 September 2011
http://ipotes.wordpress.com diakses tanggal 20 September 2011
http://pengantarpendidikan.files.wordpress.com diakses tanggal 20 September 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s